Where pain meets poetry: welcoming my 1st book
in lieu of sorrow, november goes painfully sweet
A love letter to the unrequited. A story of seasons. A self, rediscovered.
Buku ini adalah aku, dan aku seorang. Sebuah diri, serangkaian musim, sebuah pemahaman. Kisahnya sangat personal, segalanya kutulis dengan hampir mentah. Semua menjadi kenangan berharga dan penuh pelajaran, dan juga selalu kusisipkan pesan lebih bermakna di dalamnya. Tergantung bagaimana kalian menginterpretasikannya.
...
“15, 17, 18, 19, … 20!” Selamat hari rilis buku
pertamaku.
Aku selalu mengkategorikan diriku penulis novel fiksi, siapa sangka debutku malah meluncurkan buku kumpulan puisi. Tidak apa, karena aku akan terus melakukan ini (menulis), dan akan terus bermimpi besar. Juga, karena aku masih di usia 20, dengan bangga kunyatakan aku senang bisa membagikan kisah ini kepada kalian.
Melalui 90 judul puisi-prosa yang kutulis sejak 2021 sampai Desember 2024—kenyataannya aku bukan cuma ingin menawarkan luka yang dibungkus diksi indah. Ini bukan sekadar kisah patah-lalu-tumbuh. Ini tentang perlahan terurainya sesuatu yang dulu akrab; bagaimana kedekatan berubah jadi jarak, bagaimana tawa mengering jadi keheningan yang waspada. Dan yang terpenting, ini bukan cerita tentang penjahat atau korban. Yang hidup dalam buku ini adalah kebingungan. Kontradiksi. Tentang sisi abu-abu yang enggan kita beri nama. Tentang sentimen yang terasa seperti perang, dan kemarahan yang sebenarnya adalah duka dalam penyamaran.
Tentang seorang perasa yang mencari dirinya di antara serpihan emosi yang tak pernah sederhana, dikelilingi segudang kepala logis, dan perlahan menjadi fasih dalam berbicara bahasa mereka. Tentang bisu yang tak pernah benar-benar diam. Tragedi dan ironinya justru terletak pada betapa sederhananya segalanya: momen yang terlewat, kebingungan yang terlalu lama dipendam. Karena, meskipun tahu ini adalah dunia yang begitu luas, hidup singkat dan fana, hal-hal kecil seperti itu terkadang bisa terasa menyesakkan.
Dan mungkin, di antara pecahan-pecahan kecil itu, ada satu yang menyerupai kalian.
Melalui buku ini, aku berharap dapat menjadi teman-yang-tak-menghakimi. Keran yang meneteskan lirihan “jadilah baik, jadilah baik, jadilah baik” itu jangan kalian benci, karena ia lebih bijak dari filsuf mana pun. Nyatanya begitu, kok! Hari di mana kepala menjadi dingin dan hati lapang, kamu gak akan mau terlupa oleh nasihat itu. Selama didahului hubungan intrapersonal yang sehat dan self-esteem yang kuat, empati dan altruisme itu bukan lemah, atau bodoh. Mau tahu siapa yang demikian? Mereka yang berpikir kebalikannya.
Anyway, more info about the book is on my Instagram account: @nurridashafa_
Sekian dariku. Terima kasih.
See you in my next works.
Lots of love,
Shafa


Komentar
Posting Komentar